Tittle : PANDORA
Cast :
Park Chanyeol (EXO K) / Park Chanyeol
(OC) / Shin Hana,
and others
Author/Writer :
Karina Noor Fauzyah
Inspired By :
Resi Dwi Ayu FS
SMAN 13 Garut
XII.MIA-4
.
.
.
.
.
-o0o-
'Hidupnya bagaikan sebuah kotak 'pandora' yang tak siapapun dapat membukanya , biarkan tertutup dan perlahan menjadi sebuah misteri'
Gadis cantik bermarga Shin itu terbangun dari tidurnya saat ia mendapati riuh suara gadis-gadis yang berada dikelasnya , perlahan tapi pasti ia membuka matanya yang sedari tadi tersembunyi diantara kedua tangannya , ia mendongakkan kepalanya dari meja kemudian mengikuti asal suara riuh teman-teman sekelasnya itu . Keningnya berkerut ia menatap aneh sosok lelaki yang duduk dibangku paling belakang kelasnya "M-mwo , ku fikir dia akan membolos lagi ?" Ucapnya heran ketika arah pandangnya berhasil menatap sosok Park Chanyeol yang tengah menatap dingin kedepan . Perasaannya cukup lega sekarang setelah melihat sosok Chanyeol , meskipun ada rasa kekhawatiran yang cukup tinggi mengingat luka lebam di mata , pipi , juga hidung lelaki itu . Bahkan lihat , bibir Chanyeol sobek dan mengeluarkan sedikit darah disana. "Hhh...." Ia membuang nafasnya berat , ia sudah biasa akan hal itu . Percaya atau tidak Park Chanyeol adalah lelaki paling populer di Seoul Art High School ini , dan parahnya ke populeran pemuda itu adalah karena ia menjadi murid peringkat teratas 'Black List' para guru . Ia seorang yang sulit dijelaskan . Chanyeol adalah namja yang bisa diakui sangat tampan , ia tinggi , dan terlihat sempurna jika saja ia bukan seorang berandalan , pembuat onar , pembolos , dan ... Brengsek. Ya , brengsek. Akui saja dia sangat brengsek , gadis itu bahkan sering mengumpat akan hal itu padanya didalam hati , ya hanya didalam hati . Ia tidak memiliki keberanian sebesar siswi-siswi lain disekolah ini untuk menyapanya atau bahkan sekedar mendekatinya.
BRAK
Ucapan gadis tadi terhenti , semua siswa dikelas 2-6 mengalihkan perhatian mereka pada satu sosok yang kini tengah berdiri dengan menggendong tasnya disebelah bahu "C-chanyeol-ah ..." Jiyoung bangkit dari duduknya kemudian tergerak mengambil hadiahnya yang tadi sempat Chanyeol jatuhkan kelantai dengan begitu kasar , "Kau memanggilku apa tadi ?" Chanyeol menatap Jiyoung yang kini tengah terduduk dengan lututnya sebagai penopang , gadis itu tertunduk menahan air mata yang seolah tak kuasa untuk tak mengalir dari pelupuk matanya , "Chanyeol-ah..." Ucap Jiyoung kembali menahan isakannya , Chanyeol menajamkan pandangannya "Sejauh mana kau mengenalku hingga kau bisa memanggilku 'Chanyeol-ah' Jiyoung-ssi ?" Ucapnya dingin kemudian ia berjalan keluar kelas .
Shin Hana membulatkan matanya , ia begitu terkejut . Tindakan Chanyeol memang sangat kasar terhadap para gadis, gadis itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan menyusuri setiap baris bangku diruang kelasnya dan berhenti ketika langkah kakinya sudah menuntun tepat kearah Jiyoung berada "Jiyoung-ssi ?" Panggilnya lembut membuat gadis yang tengah terduduk itu mendongak menatapnya "Mwoya?!" Jiyoung menatap tajam kearah Hana membuat gadis itu harus memundurkan langkahnya saat Jiyoung mendadak beranjak dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hana "A-ani , Jiyoung-ssi apakah kau harus seperti ini ?" Hana tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan Chanyeol dan Jiyoung , tapi tetap saja sebagai seorang teman dan seorang perempuan , perasaannya sama hancur seperti perasaan Jiyoung , setidaknya Jiyoung seharusnya memiliki harga diri yang cukup tinggi dibandingkan harus melakukan hal yang sama berulang kali. "Apa ini urusanmu Shin Hana-ssi ?! Urus urusanmu sendiri , oh ya aku mengerti . Apakah kau iri padaku ?!" Jiyoung tersenyum meremehkan kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Hana. Kini arah pandang Hana melirik kekanan dan kekiri memperhatikan keadaan kelasnya , yang benar saja kini semua siswa tengah memperhatikan mereka berdua. "Mwo? I-iri p-padamu?" Tanyanya terbata , kemudian memundurkan tubuhnya beberapa langkah , Jiyoung mengangguk pasti kemudian memajukkan langkahnya "Setidaknya Chanyeol pernah datang ke rumahku, kalian hanya iri padaku kan ?" Ucapnya dengan tersenyum penuh kemenangan . "M-mwoya ?" Hampir seluruh gadis diruangan itu menatap Jiyoung tak percaya , termasuk Hana yang kini diam mematung seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Yak! Kwon Jiyoung-ssi !" Tiba-tiba seorang gadis dengan poni dan rambut pendek sebahunya beranjak dari kursi yang tadi ia duduki , Hana dan Jiyoung menoleh kearah gadis tadi yang kini terlihat tengah mengepalkan tangannya "Aku tahu kau adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini , kau bisa saja berkata pada orangtuamu untuk mengeluarkanku atau gadis-gadis lain yang menurutmu bisa menghalangi jalanmu mendapatkan Chanyeol! Tapi ... Setiap orang berhak mencintai dan memilih siapa yang harus ia cintai , apa dengan kau berkata Chanyeol pernah datang ke rumahmu akan membuatmu merasa bahwa kau adalah orang yang dia suka?!" Jiyoung menatap remeh gadis yang masih berapi-api itu "Aku senang kau bisa tahu derajatmu sebenarnya tidak sama denganku" , "YAK!" Gadis tadi berjalan cepat kearah Jiyoung kemudian menggenggam erat kerah seragam Jiyoung membuat seluruh kelas diam mematung , menyaksikan hal tersebut. "Mwoya ? Sekarang kau bahkan bermain kasar" Jiyoung menatap tajam kearah gadis dihadapannya , "Dasar kau rubah bermuka dua , kau ber-akting seperti seorang malaikat ketika Chanyeol ada disini dan sekarang kau bertingkah seolah iblis dari neraka!" Balas gadis itu tak terima dengan semakin mengencangkan genggamannya pada kerah seragam Jiyoung. "Lalu apa urusanmu Park Hyeri-ssi?"Jiyoung mendorong kasar tubuh gadis bernama Hyeri itu hingga terjatuh kebawah , Hana yang melihat hal tersebut kemudian bergegas menghampiri Hyeri "Gwenchana?" , Hyeri menatap Hana sekilas kemudian menyunggingkan senyumnya "Ne , gwenchanayo" Hyeri mengangguk lemah mencoba meyakinkan gadis dihadapannya bahwa ia tidak apa-apa. "Kau bohong , tanganmu berdarah Hyeri-ssi aku akan mengambilkan obat untukmu ne" Hana tersenyum manis sebelum akhirnya berlari keluar kelasnya.
Jiyoung masih berdiri menatap tajam kearah Hyeri "Jadi kau bahkan sekarang sudah memiliki teman Park Hyeri-ssi , seorang Shin Hana gadis yang duduk dibangku paling depan dan selalu tertidur dikelas itu ? Hhhh kau memang pecundang sama sepertinya , seharusnya kau sadar bahwa pecundang tidak pantas untuk bersanding dengan seorang Park Chanyeol , khayalanmu terlalu tinggi , ck!" Jiyoung berbalik hendak keluar kelasnya namun langkahnya tiba-tiba terhenti "Yak! Kwon Jiyoung-ssi , lalu apa kau fikir Chanyeol menganggapmu ? Seharusnya jika benar kalian dekat satu sama lain..." Hyeri menahan kalimatnya , kalimatnya sempat tercekat namun kemudian ia melanjutkan kembali "Bukankah seharusnya dia tidak dingin terhadapmu , huh ?" Jiyoung berbalik , ia menatap Hyeri tak percaya "Beraninya kau...!" Ia mengepalkan tangannya erat mencoba menahan emosinya, namun dilihatnya kini Hyeri bangkit dari posisinya tadi yang tengah terduduk "Kita lihat saja siapa yang akan berhasil mengambil hati Chanyeol terlebih dulu" Hyeri menatap kearah teman-temannya yang lain "Siapa yang ingin bergabung?" Tanyanya antusias , gadis-gadis yang sedari tadi hanya diam dan menyaksikan kini mengangkat tangannya . "Aku!" Ucap mereka hampir terdengar bersamaan , Hyeri tersenyum kemudian menatap tajam kearah Jiyoung yang kini terlihat tak percaya "Jiyoung-ssi , kita mulai dari hari ini siapapun yang berhasil mendapatkan hati Chanyeol maka dia adalah orang yang layak untuk Chanyeol , waktunya sekitar 28 hari dan akan berhenti tepat saat ujian test kenaikan kelas .Arra?"
-o0o-
Hana berlari menyusuri setiap koridor , nafasnya tak teratur dadanya kembang kempis ia justru kebingungan mencari dimana letak ruang kesehatan , memangnya ia sudah menjadi siswa SAHS berapa lama , mengapa ia seolah-oleh tidak mengetahui apa-apa . "Ah molla , aku lupa" Hana memukuli kepalanya berulang kali , ia terlihat seperti seorang gadis bodoh saat ini , ia berhenti disebuah koridor yang cukup sepi . Hana sedang panik dan memang seperti inilah keadaannya ketika ia panik , ia akan lupa segala hal. "Ah , molla ayolah cepat ingat! Cepat ingat!" Ia memejamkan matanya sembari terus memukuli kepalanya yang tak bersalah itu
Tap tap tap
Hana perlahan membuka matanya , ia mendengar suara langkah kaki yang menggema dikoridor yang sepi ini , lehernya bergidik ia merasakan sesuatu yang aneh. "Sebenarnya aku ada dimana ?" Ia berucap lirih , pandangannya seolah tengah mencari seseorang yang tengah membuat suara langkah kaki tadi , "Kau siapa?" Ia menatap kesegala arah dengan panik "Kau siapa? Kau bukan hantu jadi jawablah..." Ia benar-benar merasa panik , Hana melangkahkan kakinya perlahan kemana saja yang terpenting ia melangkahkan kakinya.
Hana terkesiap , ia menghentikan langkahnya ketika ia tiba disebuah tangga menuju atap gedung sekolahnya, Hana menelan salivanya kemudian berjalan menaiki tangga tersebut "Apakah disini ada orang?" Hana melangkahkan kakinya terus menaiki anak tangga menuju atap gedung , pandangannya masih menatap kesekeliling.
BRUK
Seseorang menubruknya hingga ia terjatuh kebelakang dan punggungnya terbentur dinding "A-ah , sakit..." Hana meringis menahan sakit dipunggungnya, ia memejamkan matanya "Maaf" Ucap seorang pria kemudian tak lama ia mendengar langkah kaki pria tersebut yang seolah berjalan menuruni tangga meninggalkannya , "YAK!" Hana membuka matanya kemudian menatap punggung pria itu tajam masih dengan posisi kesakitannya saat ini. Namja itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh ataupun berbalik "Apa?" , Hana mencoba bangkit berdiri dengan susah payah "Yak! Kamu pemuda brengsek!" Ia berjalan menuruni tangga hingga kini punggung namja itu terlihat begitu dekat dihadapannya "Apa dengan minta maaf saja cukup? Kau membuat punggungku terasa memar!" Gerutunya kemudian mencengkram tangan pria itu dan membalikkannya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya tubuh pria itu berhasil menghadap kearahnya "C-chanyeol-ssi?" Hana membulatkan matanya tak percaya , "Maaf , aku tidak begitu memperhatikanmu..." Pria itu menatap kearah Hana kemudian tangannya bergerak menuju kearah kepala gadis itu "Yak!!" Hana menutupi kepalanya dengan kedua tangannya "Brengsek!" Ucapnya kesal menatap tajam kearah Chanyeol yang dihadapannya kini tengah tersenyum miring itu , Chanyeol mendekatkan tubuhnya kearah Hana hingga gadis itu memundurkan langkahnya dan terhenti ketika ia merasa sebuah dinding membentur punggungnya , nafas Hana tidak teratur membuat Hana benar-benar merasakan sesak "Apa yang sedang kau fikirkan , hmm?" Bisik Chanyeol membuat Hana bergidik , ia dapat melihat wajah Chanyeol yang begitu tampan dalam jarak sedekat ini jika saja tidak terdapat luka-luka diwajahnya , Hana menelan salivanya dengan susah payah, terlihat kini Chanyeol semakin mendekatkan tubuhnya membuat Hana tanpa sadar memejamkan matanya , ia merasa takut ketika tangan Chanyeol menggenggam tangannya kemudian menariknya perlahan.
Hana POV
Apa ini , kenapa aku seolah kehilangan tenaga untuk sekedar melepaskan tangan dari genggaman Baekhyun . Kenapa jantungku terasa begitu berdebar , mengapa nafasku terasa begitu sesak , mengapa tenggorokanku terasa tercekat . Otakku secara sadar memberikan penolakan namun tubuhku justru sama sekali tidak merespon , kini kedua tanganku yang sedari tadi digenggamnya perlahan-lahan ia menurunkan tanganku "Apa yang aku fikirkan?" Shin Hana ayo sadarlah , nafas Chanyeol kini terasa semakin hangat menerpa wajahku
"Shin Ha Na" Ucapnya setengah berbisik ditelingaku , aku membuka mata perlahan-lahan dan kini ku lihat Chanyeol tengah memperhatikan name tag yang tertempel pada blazer hitam didada bagian kiriku "Apa yang kau..." Aku memotong ucapanku , kini Chanyeol memundurkan langkahnya menjauh "Bukankah kau satu kelas denganku Hana-ssi?" Ia menatapku , tatapan apa itu? Sulit untuk ku artikan , "Ya" Aku mengangguk kemudian melangkah pergi meninggalkan Chanyeol , "Hhhh , Ada apa denganku? Bodoh bodoh!! Aku memang bodoh dasar bodoh bisa-bisanya aku berfikir bahwa Baekhyun akan menci..." , "Aish apa yang sedang aku fikirkan ?" Aku mengacak rambutku frustasi.
"Ah , ne! Aku teringat sesuatu , ya aku harus keruang kesehatan Hyeri pasti tengah menungguku" Dengan pasti aku berjalan menyusuri setiap koridor , kini kurasa ingatanku kembali pulih dan aku tahu dimana letak ruang kesehatan berada. "Berada dalam situasi yang amat sangat menegangkan bersama Chanyeol benar-benar membuat jantungku seolah akan pergi , tapi tunggu bukankah Chanyeol membawa tasnya lalu mengapa ia tidak membolos dan justru berada diatap gedung?."
Hana POV END



